Jumat, 13 September 2013

Komunikasi yang Harmonis

Halo! Kembali lagi dalam blog keren dari Achmad Basyir Santoso Adiputra. Kali ini kita akan membahas tentang komunikasi.
communication is essential.
Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan komunikasi, kita bisa menyampaikan ide kita ke orang lain. Tentunya, dengan komunikasi kita bisa memahami apa ide orang lain.

Bayangin aja kalo nggak ada yang namanya 'komunikasi', gimana lo bisa memahami isi dari blog ini, betul? Hehehe.

Kita sepakat bahwa komunikasi itu penting. Tapi menurut gue - dan yang perlu kita sepakati juga bersama-sama - adalah komunikasi yang harmonis itu penting. Artinya, kita dan lawan bicara memahami betul apa yang menjadi poin penting dalam komunikasi dengan orang lain. Bahasa gampangnya, kita nangkep dan ngerti apa yang teman bicara kita sedang sampaikan.

Tentunya, teori tidak semudah praktek. Banyak hal yang menjadi penghambat komunikasi. Secara psikologis, hambatan komunikasi adalah:
  1. Perbedaan kepentingan (hidden agenda)
    Ketika ada seseorang yang memiliki perbedaan kepentingan, mereka akan selektif dalam menerima informasi yang kita dapet. Kecendrungannya, mereka cuman memilih informasi yang sesuai dengan kepentingan yang ingin mereka ajukan. Artinya, ada hidden agenda. Dan hidden agenda menyulitkan seseorang untuk bisa mencerna komunikasi secara keseluruhan.

    a wild hidden agenda appeared!
  2. Prasangka
    Prasangka, adalah sebuah anggapan tanpa dasar yang jelas dan cendrung negatif terhadap individu/kelompok tertentu. Pada umumnya, prasangka itu termasuk di antaranya adalah: perasaan negatif (contoh: ah, si dia pasti mau ngerepotin gue nih.), kepercayaan yang mengandung stereotipe (contoh: pasti nih orang ngomong ke gue ada maunya doang), dan memiliki kecendrungan untuk mendiskriminasi terhadap anggota grup (contoh: jangan sampe nih orang diterima di masyarakatnya). Tentunya, ketika seseorang sudah berprasangka, apapun yang keluar dari mulut teman bicara kita akan selalu kita anggap sebagai omong kosong. Mereka tidak akan mempercayai apa yang dibilang oleh teman bicaranya. Komunikasi menjadi percuma.

    How do you see someone?
  3. Stereotipe
    Catweel (1996) mengatakan bahwa stereotipe adalah, "... a fixed overgeneralized belief about a particular group or class of people".  Artinya, seseorang akan melihat orang lain tergantung dari bagaimana masyarakat 'menilai' dari mana dia berasal. Ribet yah. Contoh deh: ketika kita melihat orang gendut, terkadang orang yang stereotipenya tinggi bakalan bilang begini: "Ah, tuh gendut pasti kalo makan gak cukup cuman sekali, hobinya makan daging dan lemak, dan abis makan pasti tidur ". Nah, itulah yang disebut stereotipe. Orang-orang udah nganggep bahwa orang tertentu akan melakukan hal-hal tersebut, karena dia dari grup/kelompok masyarakat tertentu. Makanya, ketika lawan bicara mengatakan hal yang bukan label dari dirinya, kecendrungannya mereka gak percaya. Padahal, orang gendut itu kali aja karena tulangnya gede, bukan karena hobi makan (pembenaran, gara-gara gue gendut).
    Stereotypes all over the world
Nah, hambatan-hambatan ini bila tidak diatasi, akan membuat komunikasi kita menjadi tidak lancar. Akibatnya, kita jadi salah persepsi kepada orang lain. Dan akibat komunikasi itulah, orang bisa berantem. Mungkin bagi yang hobi berantem, ini hal yang menggembirakan. Dia bisa berantem dengan siapa aja. Tapi gue gak hobi, dan gak mau berantem sama orang. Jadi, menurut gue, komunikasi yang harmonis itu penting.

Disini, gue sebagai seorang yang bukan pakar komunikasi, cendrung biasa-biasa aja, dan masih perlu banyak belajar ini pengen sharing aja gimana cara gue supaya bisa berkomunikasi dengan baik dan harmonis. Memang, gue bukanlah komunikator yang ulung. Tapi seenggaknya, cara ini berhasil membuat gue untuk bisa ngobrol dan having fun bersama mereka.

Berikut 5 versi komunikasi harmonis versi gue:
  1. Tahu mana yang konten, dan mana yang konteks. Kita harus tahu pembicaraan ini tentang apa, dan apa yang harus dibicarakan. Ketika seseorang berbicara, kita harus tahu konteks dari topik yang bisa dibahas. Kita harus memahami, apa yang menjadi koridor dan batasan dalam topik pembicaraan. Siapakah teman bicaranya? Apakah pembicaraan ini sifatnya terbuka (bisa dibicarakan oleh semua orang), atau tertutup (hanya segelintir orang yang boleh tau)?  Apakah pembicaraan ini serius, atau santai? Ini pembicaraan tentang apa? pekerjaan, kehidupan, atau cinta? atau yang lain? dan yang paling penting, bagaimana saya harus bereaksi terhadap pembicaraan ini?

    Content and context in a nutshell.
    Saat kita berbicara ke lawan orang lain, kita pun harus tahu apa yang harus disampaikan terhadap teman bicara. Tentunya, apa yang mau kita sampaikan (konten) harus sesuai dengan konteks pembicaraan. Ketika seseorang itu serius, ya kita harus tanggapi dengan serius. Ketika ini bersifat tertutup dan rahasia, ya kita harus menjaga kerahasiaan tersebut. Ketika pembicaraannya tentang pekerjaan, ya jangan bicarakan hal lain selain pekerjaan tersebut. Simpel, kan?

    TIDAK. It is not as simple as it seems. Permasalahannya, konten dan konteks menurut kita, belum tentu merupakan konten dan konteks menurut orang lain. Ketika kita berpikir ini pembicaraan terbuka yang bisa dibicarakan oleh seluruh orang, ternyata ini adalah pembicaraan tertutup. Ketika kita berpikir bahwa ini topik tentang cinta, ternyata ini topik tentang pekerjaan. Ketika kita berpikir seseorang yang bermasalah mau solusi, ternyata dia hanya mau didengarkan saja agar dirinya lebih tenang. Gagal untuk menangkap konten dan konteks komunikasi membuat teman bicara anda kesal. Makanya, pahamilah konten dan konteks.
  2. Empati. Ini penting banget untuk menangkal hambatan prasangka dan stereotipe. Ketika berbicara kepada seseorang, lepaskan seluruh pemikiran yang ada di dalam diri, dan mulailah mendengarkan. Belajarlah melihat sisi pandang orang lain. Belajarlah memahami apa yang menjadi penting buat dia, apa yang menurut dia salah, dan apa menurut dia yang harus diperbaiki. Caranya mudah, cukup lepaskan pemikiran-pemikiran yang menurut anda benar, dan mulailah menyelami pemikiran orang lain. Percaya deh, kita akan menemukan sesuatu yang menarik ketika menyelami pemikiran orang lain.

    empathy, feeling how they feel?
  3. Asertif. Dalam berkomunikasi, gak cuman orang lain yang ingin dimengerti. Anda juga ingin dimengerti, bukan? Oleh karena itu, ketika berkomunikasi dengan orang lain, sampaikanlah apa yang ingin anda sampaikan, tanpa kesulitan mengatakannya. Dengan begitu, bisa terjadi hubungan komunikasi yang timbal balik. Walaupun apa yang ingin anda katakan tidak sejalan apa yang ingin orang lain katakan, tapi anda akan dihargai oleh lawan bicara anda karena menjadi orang yang apa adanya, dan anda puas dengan diri anda sendiri karena telah menyampaikan apa yang ingin anda sampaikan. Jadi, komunikasi anda adil, tanpa harus ada seseorang tertekan haknya.

    process of being assertive.
  4. Sopan dan santun. Dalam berkomunikasi, belum tentu semua orang bisa menerima apa yang kita sampaikan dan bagaimana kita menyampaikannya. Orang bisa saja salah pengertian akibat cara menyampaikan kita yang buruk, atau kata-kata yang kita gunakan tidak pantas. Gunakanlah kata-kata yang baik ketika berbicara, dan aturlah cara anda berbicara agar dapat diterima oleh lawan bicara. Kata-kata anda harus dipilih dan diolah sehingga menjadi sebuah pesan yang santun. Aturlah bagaimana cara berbicara, intonasi, dan body language anda agar pesan yang anda sampaikan terlihat sopan. Ini menjadi sangat penting, khususnya untuk kita yang hidup di daerah timur dimana sopan santun menjadi hal yang utama. Dengan ber-sopan santun dalam berkomunikasi, otomatis kita juga sudah menghormati teman bicara kita.

    Attitude from Captain Jack
  5. Ikhlas. Ini tentunya untuk menghindari adanya hidden agenda. Ketika anda mau berbicara dengan seseorang, anda harus pastikan bahwa anda memang benar-benar mau berbicara dengan orang tersebut. Anda berbicara dengan orang tersebut bukan karena anda mau mencari perhatiannya, mengambil untung darinya, atau sekedar nggak enak karena teman bicara anda mengajak anda berbicara. Keikhlasan, walaupun tidak bisa terlihat dengan ucapan, tapi dapat dirasakan. Ikhlas memang bukan melalui ucapan, tapi melalui hati sanubari mereka yang mengucapkan. Keikhlasan adalah tentang hati, yang tahu hanyalah Tuhan dan anda sendiri.

    Sincerity. When you feel it, it's awesome.
Jadi, itulah 5 metode a la gue untuk survive di belantara kehidupan ini. Memang, gue pun masih belajar untuk melakukannya. Bagi gue, yang susah itu adalah paham konten dan konteks, asertif (yeah, I'm a pushover), dan ikhlas. Terkadang gue gak ngerti situasi walaupun seharusnya gue udah tau, dan nggak mudah bagi gue untuk mengatakan apa yang gue inginkan, karena terkadang gue sangat ingin untuk mendapatkannya. Makanya gue jadi agak takut ketika gue mau mengatakan apa yang gue inginkan. Eh, kok jadi curhat, sih!? (=______=)

Yah, intinya sih beginilah cara gue untuk berinteraksi dengan orang lain. Mudah-mudahan ini bermanfaat ya buat pembaca budiman dan budimin. Sekalian ini juga mengingatkan gue tentang gimana cara bersikap ke orang lain juga. Hehehee.

Bagi Lo yang ngerasa ini nggak tepat, nggak setuju, tidak aplikatif, postingan yang tidak bermakna, atau mempunyai ide yang lebih baik dalam berkomunikasi, ayo kita diskusi di kolom comment! Silahkan berikan kritik, ide, dan saran tentang bagaimana cara versi Lo berkomunikasi. Mari kita berdebat sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, salahkan gue, kritik kelemahan gue, dan tunjuk apa yang kurang dari gue. Klo memang gue salah, gue terima, dan GUE AKAN LEBIH SUKSES DARI ANDA! MWAHAHAHAHAHAHA.

Eh, sukses sendirian gak enak kali. Enakan sama-sama! Yuk, dah! Sampai jumpa di post selanjutnya.  (^o^)/

sumber:

http://makalahskripsimakalah.blogspot.com/2012/11/hambatan-dalam-komunikasi.html
http://www.simplypsychology.org/katz-braly.html
http://psychology.about.com/od/pindex/g/prejudice.htm

images:
http://yezza.info/wp-content/uploads/2008/10/137-hidden-agenda.jpghttp://www.sxc.hu/assets/2/18390/communication-46936-m.jpghttp://thisisfuerza.files.wordpress.com/2013/03/mapp.jpghttp://cdn.themetapicture.com/media/funny-punk-kid-angel-little-girl.jpghttp://text100india.files.wordpress.com/2012/10/empathy1.jpghttp://static.someecards.com/someecards/usercards/1298497983093_1963653.pnghttp://cdn.themetapicture.com/media/funny-Jack-Sparrow-problem-attitude.jpghttp://haritsaja.files.wordpress.com/2011/12/ikhlas.jpg

Sabtu, 07 September 2013

Memulai Kembali

Hai blog! Ah, sudah lama tidak menulis apapun. Padahal kehidupan gue sangat menarik tetapi entah kenapa baru sekarang ada keinginan buat menulis mengetik lagi.

Gue jadi ingat masa-masa dimana gue ngeblog hanya sekedar untuk mengisi waktu, curhat, atau ketika ada tugas dari dosen. Dan sekarang - disaat gue lagi sangat burnt out dan butuh pelampiasan untuk melepaskan lelah - gue teringat untuk membuat postingan blog lagi.

Omong-omong tentang blog, beberapa hari yang lalu temen gue, Adam, datang ke rumah setelah perjalanan yang menyenangkan selama kurang lebih 10 hari di daerah karimun jawa. Petualangan bersama homoan sahabatnya memang menarik untuk disimak. Dia pun juga mendapatkan banyak pelajaran kehidupan selama perjalanan. Dan juga dia banyak sekali bercerita tempat makan yang enak dan murah, yang mana membuat gue iri karena pasti pembaca lebih tahu bagaimana kita harus menelusuri jakarta sampai ke pelosok-pelosoknya untuk menemukan makanan yang enak, murah, dan mantap.

Dia berjanji untuk membuat blog untuk menceritakan hal itu. Satu hal yang sulit baginya, adalah memulai untuk membuat sebuah postingan. Walaupun sebenarnya gue sudah menjelaskan bahwa membuat blog post semudah membuat esai. Menulis esai itu mudah asalkan kita menguasai materi apa yang mau kita tulis. Menurut gue, sama halnya dengan blog, selama kita tau apa yang mau diceritakan.

Memang sulit untuk memulai sesuatu. Butuh sebuah kemauan yang kuat untuk memulai sesuatu dan berkomitmen. Tetapi menurut gue, ada hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memulai sesuatu. Yaitu memulai kembali.

Sebelumnya, mari berkhayal. 




Bayangkan ketika kita membuat ini dan hampir berhasil. Kemudian karena kesalahan kecil atau kecelakaan, apa yang kita buat ini hancur berkeping-keping dan kita harus mulai dari awal lagi.

Mungkin sepele kali yah kalo hanya sekedar menyusun kartu saja. Tapi kalo misalnya kehidupan? Karir yang hancur, bisnis yang rugi, atau bahkan cinta yang dikhianati?

Memulai kembali sesuatu setelah gagal membutuhkan keberanian dan optimisme yang besar. Tidak mudah bagi seseorang untuk memulai kembali setelah seluruh usahanya hancur dan kembali ke titik awal dia bermula.

Tidak mudah bagi seseorang untuk memulai karir baru, setelah betapa banyak dan cemerlangnya karya dia di karir sebelumnya.

Tidak mudah bagi seseorang untuk memulai kembali bisnis, setelah betapa banyak asetnya yang sudah berputar dan bangkut menghilang.

Tidak mudah bagi seseorang untuk memulai cinta kembali, setelah betapa banyak perasaan yang dibangun terhadap pasangannya dan dikhianati begitu saja.

Memang tidak mudah, tapi mungkin dilakukan. Banyak orang-orang yang memulai kembali dan akhirnya sukses di kehidupannya. Mereka belajar dari kesalahan kemudian memulai kembali dengan cara yang baru.

Ketika seseorang bisa memulai sesuatu, dia hebat. Tetapi seseorang yang bisa memulai kembali, adalah orang yang luar biasa.

Dan bagaimana caranya untuk memulai kembali? Jawabannya adalah motto dari sebuah merk sepatu yang terkenal:

Just Do It!

Kamis, 04 Juli 2013

Merenung: Ketika Saya Memilih Untuk Kuliah

Selamat malam, dunia. apa kabar malam ini? Semoga kamu baik-baik saja, dan tetap memberikan ketenangan batin bagi mereka yang selalu bersyukur. :)

Gue jadi inget beberapa tahun yang lalu, ketika gue baru lulus SMA dan mulai memilih universitas yang akan gue pilih menimba ilmu nantinya.

Dulu, gue sangat jatuh cinta dengan komunikasi. Entah kenapa kayaknya komunikasi menjadi pilihan yang pas untuk orang-orang bertipe seperti gue. Tapi, paradigma itu berubah ketika gue mendengar "psikologi". Ketika mendengar jurusan itu, entah kenapa gue semacam terpanggil untuk masuk ke jurusan itu, dan memilihnya sebagai jurusan yang akan gue konsenterasikan. Selidik punya selidik, ternyata psikologi belajar tentang kondisi jiwa dari manusia. Wah, makin asik nih.

Akhirnya gue bertekad untuk masuk ke jurusan psikologi. Waktu itu gue memilih di salah satu universitas negeri yang terkenal di Indonesia. Awalnya gue memilih masuk situ, karena gue yakin universitas itu mempunyai kualitas yang terbaik dan bisa memberikan gue ilmu yang bermanfaat. Ditambah lagi orang-orang yang masuk di dalamnya pasti orang-orang yang berkualitas juga. Gue pasti dapet teman-teman yang berkualitas pula.

Kemudian, mulailah gue berusaha untuk mendapatkan almamater tersebut. Singkat cerita, gagal. Gue mendapatkan jurusan sastra bahasa indonesia di almamater lain (sekitar daerah jawa barat, universitas negeri juga tentunya), dan gue tidak mengambilnya. Gue memutuskan untuk tidak kuliah tahun tersebut.

Kemudian, gue pergi magang, dan singkat cerita, ternyata gue punya tujuan baru dalam kuliah.

Waktu itu gue berpikir, gue hanya bisa mendapatkan teman-teman berkualitas di universitas yang punya kualitas. Tetapi gue merubah pemikiran gue. Tujuan gue kuliah adalah memperbanyak teman, dan teman gue tidak hanya dari universitas gue saja, tetapi gue juga harus mendapatkan teman-teman dari universitas lain. Pokoknya, walaupun gue kuliah di universitas swasta, gimana caranya gue harus bisa dapet temen dari universitas negeri.

Kemudian, gue mencoba lagi tahun berikutnya. Pada akhirnya, gue mendapatkan Universitas Pancasila sebagai pilihan gue, dan fakultas psikologi sebagai jurusannya. Alhamdulillah.

Gue dan teman-teman ketika Penerimaan Mahasiswa Baru. Masih polos yah.
Mulailah gue berkuliah, mengikuti organisasi senat dan BPM di fakultas. Belajar tentang bagaimana berkreasi di sebuah organisasi, dan menyelesaikan masalah-masalah di dalamnya. Baik itu masalah yang ecek-ecek sampai masalah yang serius.
Sema F. Psi-KMUP periode 2012-2013

Tiba-tiba, lembaga mahasiswa fakultas gue "berkawan" dengan Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia, yang mana disitu merupakan sebuah kumpulan Lembaga Mahasiswa jurusan Psikologi yang melakukan kerjasama antara yang satu dengan yang lainnya.

Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia. Hayo, gue dimana?

Gue pun berpikir: "Wow! akhirnya gue bisa punya temen universitas lain, nih!". Dan gue pun kenalan dari orang-orang yang mengurus organisasi lembaga mahasiswa di tiap universitas. Gue kenal orang-orang dari UI, UIN Jakarta, UNISMA 45 Bekasi, Universitas Mercubuana, Universitas Al-Azhar Indonesia, dan masih banyak lagi.

Bahkan, ketika gue mengikuti musyawarah nasional organisasi tersebut, gue berkesempatan bertemu dengan orang-orang dari pulau lain. Gue kenal orang-orang dari sumatera sampai makassar. Gue bisa kenalan dengan orang-orang dari timur ke barat se-Indonesia! Wow! Bener-bener bahagia sekali. :)

Dan tujuan gue pun terwujud untuk mendapatkan teman sebanyak-banyaknya, dan memperluas pertemanan gue. Gue sangat bersyukur kepada Tuhan karena entah kenapa semuanya yang tiba-tiba menjadi begini. Nggak sangka, gue dapet ini semua bukan dari universitas yang gue inginkan dulunya.

Bahkan, di dalam universitas sendiri gue juga banyak ketemu orang-orang yang brilian dan punya ide fresh, serta orang-orang yang yang punya kualitasnya sendiri-sendiri.

Mengingat ini semua, gue sadar bahwa Tuhan punya cara misterius untuk memberikan keinginan kita. Dan nggak disangka, tujuan itu tercapai. Mungkin jika gue memutuskan untuk tidak masuk ke jurusan psikologi yang saat ini gue naungi, gue akan bernasib lain. Mungkin gue nggak akan ketemu orang-orang yang gue kenal saat ini, dan juga mungkin gue nggak akan ketemu dia.

Dan mungkin untuk kamu yang sedang membaca artikel ini, yang sedang dalam kebingungan untuk memilih universitas mana yang akan kamu pilih untuk menimba ilmu, cuman satu pesan gue: beranilah. Kesuksesan kamu di perkuliahan bukan ditentukan dari seberapa terkenalnya almamatermu, tapi bagaimana kamu bisa menjadi manfaat untuk orang lain. 

Tentukanlah tujuanmu untuk kuliah, in sya Allah, Tuhan pasti mengabulkan. :)

Selasa, 04 Juni 2013

Synchronization

Tenang! Jangan galau dulu. Postingan ini tidak berbahasa inggris, kok. hahaha. Hanya judulnya aja yang berbahasa Inggris. Entah kenapa di suatu malam yang sepi, sunyi, dan sendiri, tiba-tiba muncul sebuah kata tersebut.

Synchronization atau Refresh, sama saja.
Iseng-iseng mencari sebuah definisi dari kamus gratis:
syn.chro.nize - To occur at the same time; be simultaneous.
Ternyata maknanya adalah untuk terjadi di waktu yang sama; secara berkelanjutan. Jadi mikir sendiri. Selain banyak definisi hidup di luar sana, mungkin hidup itu adalah sinkronisasi (baca: penyelarasan, adaptasi, nyama'-nyama'in).

Di kehidupan kita sehari-hari, pastinya kita selalu melakukan penyelarasan. Entah itu sama teman, orang tua, pacar, atau masyarakat yang bahkan nggak kita kenal. Setiap harinya, kita selalu bertemu orang dan menyesuaikan diri dengan orang lain. Hal yang paling simpel aja deh. Kalo ditanya "Apa kabar?" sama temen kita pasti lah kita ngejawab. Entah dengan jawaban yang biasa aja ("Baik, kamu?") atau jawaban yang agak sedikit di luar norma ("Aku lagi galau! Karena aku terlalu ganteng"). Masa iya ditanya nggak jawab? Ntar malah disangka schizophrenia, dan harus dibawa ke psikolog.

Jadi makin mikir. Stimulus - Respons mungkin juga bentuk sebuah sinkronisasi kali yak. Yang namanya stimulus pasti ada respons. Seperti contoh di paragraf sebelumnya. Kalo ditanya, ya dijawab. Kalo dikasih, ya diterima/ditolak. Kalo p.d.k.t., ya direspon. Tapi, kalo udah p.d.k.t. gak direspon, gimana, dong? #curhat

Intinya, sinkronisasi, apapun bentuknya, pasti selalu ada di kehidupan kita sehari-hari. Selain sinkron sama orang lain, juga harus bisa sinkron dengan masyarakat. Setiap masyarakat punya aturan sendiri dimana kalo kita ikut aturan tersebut, berarti kita adalah orang yang sinkron, sesuai dengan lingkungan tersebut. Orang yang gak bisa nyinkron dirinya dengan orang lain, pasti dianggap aneh, sakit, ataupun lebih parah lagi, dibenci orang lain.

Makin mikir. Akhirnya orang-orang membuat aturan mainnya sendiri. Terciptalah orang-orang yang bisa disebut 'unik'. Orang-orang yang pake baju kulit lusuh, sepatu boots, rambut mohawk, dan ber-piercing disebut sebagai anak Punk. Orang-orang yang suka sesama jenis disebut 'homosexual', dan orang-orang yang beribadahnya di Mesjid itu orang 'beragama Islam'. Pada dasarnya, setiap orang punya aturan main sendiri, kan? Orang-orang yang punya aturan main sesuai, akan pergi bergabung dengan orang-orang dengan aturan main selaras. Terbentuklah apa yang disebut masyarakat. Artinya, sinkronisasi itu udah otomatis.

Berarti, orang-orang yang tidak mengatur sinkronisasinya, akan terbawa arus oleh sinkronisasi otomatis yang sudah terjadi pada alam! Bagus deh kalo alam membawa sinkronisasi kehidupan kita menjadi lebih baik. Yah kalau lebih buruk? PR banget deh.

Baik-buruk pun terjadi akibat dari sinkronisasi nilai juga. Ada yang setuju bahwa minum dan merokok itu boleh, untuk melepas stress dan alasan sejenis. Ada juga yang bilang bahwa minum dan merokok itu tidak boleh, karena dilarang agama, tidak mencerminkan pribadi yang baik, dan alasan sejenis. Berarti, ada banyak standar sinkronisasi dong, ya!?

Akhirnya, kembali lagi ke manusia itu masing-masing mau menyinkronkan diri seperti apa. Bila tidak menyinkronkan diri, ya akan terikut oleh arus sinkronisasi otomatis yang dilakukan oleh alam. Daripada di PHPin oleh alam, mendingan mulailah menata diri dengan nilai dan paradigma yang jelas. Supaya kalo yang namanya hidup tuh punya prinsip. Prinsip yang jelas membuat lebih gampang membedakan mana yang benar atau yang salah, dan kita jadi lebih punya kontrol terhadap diri sendiri.

Prinsip apa yang paling hakiki? Banyak sih. Tapi bagi gue, lebih mudah untuk menggunakan prinsip Tuhan. Udah jelas ada kitab sucinya, tinggal ngikutin. Manusia yang mengikuti prinsip Tuhan tersebut pun benar-benar sukses dunia akhirat, yaitu Nabi Muhammad S. A. W. Yah, kembali ke individu masing-masing aja sih, hehehe.

Senin, 27 Mei 2013

Touchdown 22 tahun!

Selamat malam!

Beberapa hari yang lalu gue mendapatkan berkah yang sungguh luar biasa, yaitu merasakan menjadi seseorang yang telah berumur 22 tahun.

Umur sekarang udah naik, berat juga naik, dan kasih sayang? Naik juga dong. Hahaha. Tapi hal yang paling penting bukan apa yang naik, tapi apa yang udah dijalankan selama 22 tahun silam ini.

Selama ini, sudah banyak perubahan yang terjadi di dalam diri seorang Basyir/Putra. Perubahan itu bisa bagus, bisa buruk. Yah, perubahan yang paling berarti selama 22 tahun ini adalah.. Dulu gue orang yang hobi menahan pup. Sekarang di umur yang ke 22 kalo nahan pup udah gak menikmati lagi, dan langsung disalurkan kepada tempat yang sudah ditetapkan oleh umat manusia. Toilet.

Toilet. The most fundamental tool to satisfy your 'physical' needs.
Umur 3 tahun. Masih hobi-hobinya menahan pup.

Sepertinya salah fokus... Oke kembali ke topik.

Tapi emang sih. Manusia itu berubah. Walaupun gue menjabarkan dengan contoh sederhana yaitu perubahan kebiasaan (yaitu kebiasaan boker), tapi banyak hal lain yang juga berubah. Mulai dari fisik, pemikiran, harapan, hobi, dan berbagai hal sebagainya. Yup, perubahan sepertinya adalah hal yang natural. Pertanyaannya, emang ada perubahan yang dibuat-buat? ada lah, we also know it as a learning theory.

Teori pembelajaran/perubahan perilaku (menurut gue) menunjukkan seberapa tidak puasnya manusia terhadap kondisinya saat ini. Ada saja hal-hal yang ingin dirubah pada dirinya, atau orang lain. Misalnya: berharap orang cuek untuk menjadi lebih perhatian, berharap orang yang hobi ngomongin orang lain untuk lebih ngomong hal yang lebih penting dari itu, atau berharap orang yang boros untuk menjadi lebih hemat. Everyone expect anything to be changed. Tentu saja, ketidakpuasan muncul karena tiap orang berpikir bahwa dirinya bisa menjadi lebih baik lagi, bukan?

Permasalahan terjadi ketika seseorang berubah bukannya menjadi lebih baik, tapi malah lebih buruk. Mungkin itulah sebabnya ada orang yang takut akan perubahan. Ada orang yang berharap bahwa semua akan tetap sama seperti biasa. Tapi bagi gue, tidak. Perubahan adalah sebuah hal yang akan terus terjadi sampai akhir hayat manusia. Manusia yang tidak berubah adalah manusia yang mati.

Kenapa begitu? Bayangkan aja. Tiap hari kita berpindah tempat dari bangun tidur di rumah, sampai ke kampus dan akhirnya kembali lagi ke rumah untuk tidur. Dalam sehari aja fisik kita udah berpidah-pindah. Tapi perubahan posisi bukanlah hal penting. Lebih penting lagi adalah perubahan nilai, perubahan cara pandang terhadap kehidupan. Kemudian, perubahan perilaku terhadap kehidupan itu. Gimana seseorang memaknai kehidupannya dan hal-hal yang telah terjadi di sekitar dia. Itulah perubahan yang lebih penting. Karena perubahan nilai menentukan sikap. Dimana sikap kita menentukan takdir kita.

Begini contohnya. Bayangkan ada seseorang yang punya pemahaman bahwa hidup itu persaingan dan kompetisi, dimana orang-orang terdekat adalah pesaing dia yang harus dikalahkannya. Kemungkinan, dia akan menganggap bahwa orang lain adalah saingan-saingan yang harus dikalahkan. Kemudian, mulailah dia berusaha menjadi nomor satu di bidang-bidang yang dikuasainya. Dia pun sering berbicara tentang kemenangan dan kompetisi. Hasilnya, dia akan bertemu dengan orang-orang yang punya nilai yang berkompetisi juga. Kemudian, hidupnya pun penuh dengan kompetisi. Semua diawali dengan pemahaman bahwa hidup itu persaingan.

Begitulah bagaimana nilai-prinsip-paradigma, atau apalah itu, mempengaruhi takdir kita. Nilai menentukan siapa kita, siapa teman kita, dan bagaimana nantinya kita. Makanya Om gue bilang bahwasannya bila ingin tahu siapa dia, lihat saja siapa temannya.

Nah, makanya Basyir/Putra yang sekarang ini, merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang telah Basyir/Putra pahami dan dilaksanakan. Inilah Gue, manusia berumur 22 tahun yang berstatus single, hobi main sulap, gitar, dan menulis, suka bergaul, dan susah let go.

Gue merasa perlu merubah diri, karena diri yang saat ini bukanlah diri yang terbaik. Gue ingin merubah diri gue menjadi orang yang lebih bahagia lagi. Mudah-mudahan semakin Gue bertambah umur, Gue semakin bahagia. By being happy, I can also give happiness to everyone, right? How come I can give happiness, if myself is not happy?

Pokoknya tahun ini, kita hiasi dengan lebih bahagia lagi. Supaya bisa memberikan kebahagiaan ke orang lain. :-)

Rabu, 17 April 2013

Sajak Kematian

Diujung malam, dipojokan kamar.
Terdiam, dingin, kaku.
Mencoba memecah kebisingan.
Tidak bisa.

Selimut, mana selimutku!?
Menutup seluruh tubuh dengan selimut.
Nyaman, Aman, Tentram.
Sayangnya hanya sementara.

Terdiam, dingin, kaku.
Selimut pun tak mampu menahan.
Perlahan, keluar.
Menyakitkan.

Hilanglah semua rasa.
"Man Robbuka?"

Jumat, 05 April 2013

Pengemis Cinta.

Untukmu yang pernah kurindukan.

Telah sampai dimana harapan dan kenyataan menjadi tak senada.
Merebut raut muka yang riang gembira menjadi hampa tak berjiwa.
Senyum manis yang tertahan dibalik murka, gelisah, dan kecewa.
Melindungi Ego semata, mencari penalaran dibalik duka.

Nestapa.

Menggeliat dalam jiwa.
Merebut kebahagiaan.
Merasuki rasa.
Merasa inilah akhir dunia.

Kau, yang kucinta.
Kau, yang kusayang.
Kau, yang kuharapkan.

Mungkin kau tak kan penah ku gapai cintanya.

Aku hanyalah orang tanpa kuasa.
Tiada mampu menjaga asmara yang bergelora.
Walau ku tahu hasratku berteriak, "merdeka!".
Tanpa ruang mencinta, hanyalah hampa yang terasa.

Salah siapa?

Bukan kamu,
Tapi aku,
dan Ego ku.

Diriku yang terbutakan oleh cinta yang semu.
Disetir dengan hasrat sayang yang tak berbatas.
Ditakuti oleh bayang-bayang kehilanganmu.
Disesatkan oleh cinta muslihat,
Menjadi pengemis cinta yang tak terhormat.

Bagaimana bisa ku membuatmu bahagia,
Sedangkan diriku hanya bisa meminta?

Malam itu, kudekap dirimu dalam pelukanku.
Mencurahkan seluruh rasa yang sudah tak terbendung.
Sambil menghayati satu kalimat perpisahan,
Selamat tinggal cintaku.

Sekarang kusadari,
Keputusanmu tepat tuk tak bersama ku.
Aku hanyalah menjadi beban bagimu.
Tinggalkan aku.

Ku yakin, kau akan mendapatkan seseorang,
Yang lebih baik dariku.

Satu hal yang membuatku bersyukur,
Bahwa aku masih perlu belajar mencinta.

Terima kasih untukmu,
Seseorang yang akan selalu ku rindukan.